Parenting

Ibu, Anak Anda Jatuh? Bagus itu!

By  | 

Saat seorang anak jatuh, apa kalimat yang orang tua atau pengasuh sering ucapkan?

“Aduuuh, lantainya nakal. Huuh. Kita pukul lantainya, pukul!”

“Aduh kenapa meja ada di sini, Bi Inah nih gimana sih?”

Atau..

“Kamu nakal sekali. Jangan lari-lari, nanti jatuh lagi,” dengan suara keras penuh bentakan.

Saya sering dengar yang seperti ini di berbagai tempat.

womanation.id – Powerful Woman, semua kalimat di atas berujung pada kesalahan, menyalahkan, bukan belajar menjadi lebih baik. Tidak heran kan kalau banyak orang sekarang sering menyalahkan segala sesuatunya dan tidak mau introspeksi melihat ke dalam?

Tahukah Anda, bahwa saat kita mengatakan hal-hal itu, kita mengajarkan anak untuk:

  • Menyalahkan kondisi.

Yang salah adalah lantai, atau meja. Dan kalau yang salah lantai atau meja, tidak ada yang bisa mereka pelajari untuk menjadi lebih baik lagi. Mereka tidak perlu lebih awas dan lebih hati-hati. Jadi, jatuh itu bisa terjadi lagi dan bisa lebih parah, menyakiti tubuh dengan kerusakan yang bisa jadi menyebabkan cacat seumur hidup.

Di masa depan saat mereka sudah dewasa, saat mereka jatuh dalam berbagai aspek hidup mereka sudah terbiasa untuk menyalahkan kondisi. Pemerintah tidak adil, perekonomian tidak baik, atau keluarga yang tidak mendukung. Mereka tidak terbiasa untuk mencari peluang untuk memanfaatkan kondisi tumbuh menjadi manusia yang lebih hebat, justru karena kejatuhan tersebut.

  • Menyalahkan orang lain.

Menyalahkan orang lain lebih mudah daripada belajar untuk melihat bahwa mereka bisa menjadi lebih baik. Mereka pun terbiasa untuk selalu mencari kambing hitam. Semua orang salah, kecuali mereka.

Saat mereka dewasa mereka akan selalu menyalahkan pasangan, orang tua, boss, dan semua orang lain di luar mereka. Semua orang lain salah kecuali mereka. Maka mereka pun tak berdaya untuk mulai menjadi lebih baik karena selalu ada yang bisa disalahkan. Dan bayangkan, hubungan seperti apa yang akan mereka bina dengan orang yang selalu mereka salahkan.

  • Merasa tidak aman dan tidak dicintai.

Saat mereka jatuh, mereka dibentak dan disalahkan. Saat mereka butuh orang tuanya untuk membimbing dan membuat mereka merasa aman yang terjadi adalah cetusan rasa kesal. Maka mereka pun belajar bahwa dunia ini tidak aman, tidak nyaman dan cenderung akan menyalahkan tanpa mau memahami mereka.

Saat mereka dewasa, mereka akan sulit untuk mencintai orang lain dan memberikan perlindugan pada mereka yang sangat membutuhkan perlindungan tersebut. Mereka akan cenderung melakukan hal yang sama, menyalahkan orang lain atas kesalahan yang ada dan sulit menginspirasi orang lain, karena mereka tidak mendapatkan contoh bagaimana orang tuanya menginspirasi mereka untuk belajar dari kejatuhan.

  • Labelling dan identitas diri negatif.

Mereka akan belajar bahwa mereka nakal, tidak mampu, tidak baik, dan lain sebagainya. Hal ini tidak bisa mereka lawan karena anak kecil cenderung menerima saja semua cap yang diberikan padanya. Jadi, jangan salahkan anak kalau anak akan terus melakukan kesalahan yang sama karena apapun yang dituduhkan pada mereka akan menetap pada diri mereka tanpa mereka sendiri sadar. Dan orang tua suatu hari bisa saja berkonsultasi ke psikolog mengenai anak yang sangat nakal, tanpa menyadari bahwa peran mereka membentuk perilaku tersebut sangat besar.

Di masa mendatang mereka bisa terus percaya bahwa mereka adalah seperti yang dituduhkan tersebut: nakal, tidak becus, tidak bisa jaga diri, tidak mampu, dan lain-lain. Dan orang tua pun suatu hari bisa marah-marah terus sambil menyalahkan, “Kami sih tidak begini dan begitu,” tanpa sadar bahwa mereka ikut membentuk perasaan tidak mampu, tidak percaya diri, tidak hebat itu.

Jatuh itu wajar.

Jatuh adalah kesempatan untuk belajar, sehingga bukan hanya wajar tapi jatuh itu penting. Bagi anak-anak, jatuh yang ringan-ringan itu penting, untuk belajar agar tidak terjadi jatuh yang parah dan menyebabkan cacat. Daripada kita membentak anak, menyalahkan orang lain atau menyalahkan lantai, ada baiknya kita melakukan hal-hal ini saat mereka jatuh:

  • Memeluk mereka erat-erat, menyalurkan energi kasih yang sedang mereka butuhkan. Agar mereka belajar bahwa dalam kondisi jatuh, ada orang yang mencintai mereka dan membimbing mereka. Dan bahwa meskipun mereka salah saat itu, mereka tidak kehilangan cinta tersebut.
  • Mengajak anak untuk belajar dari peristiwa jatuh tersebut. Saat lantai basah jangan berlari, tapi berjalan saja, misalnya. Sampaikan bahwa jatuh itu saat mereka belajar dari diri mereka sendiri dan dari lingkungan, agar mereka bisa lebih damai dengan lingkungannya, termasuk lantai yang paling licin sekalipun. Agar mereka tahu apa yang harus dilakukan dengan berbagai kondisi di luar sana. Sehingga akhirnya mereka tahu bahwa mereka bisa menjadi lebih baik lagi.
  • Kalau sampai ada bagian yang luka dan sakit, ajarkan pula pada anak untuk merawat bagian yang luka tersebut. Bahwa badannya punya kekuatan untuk sembuh, dan obat atau apapun yang ada dari luar hanya membantu. Pada dasarnya badannya, darahnya, ototnya dan kulitnya lah yang bekerja. Sehingga anak paham betapa hebat dirinya dan betapa ia bisa mengatasi masalahnya tanpa harus menyalahkan apapun.

Powerful Woman, yuk kita bangun anak-anak yang berdaya. Jangan lupa bahwa anak adalah cerminan kita. Jadi jangan pernah menyalahkan anak. Bantulah mereka untuk menyadari bahwa setiap kejatuhan adalah baik, dan mereka sangat hebat dan luar biasa, sehingga jatuh menjadi kesempatan mewujudkan kehebatan-kehebatan tersebut dalam hidup mereka.

 

1 Comment

  1. Nurul dwi larasati

    08/11/2017 at 15:35

    Aku pernah mengalami hal ini dengan anak pertamaku. Semoga lebih bisa menjaga ucapan lagi. Terima kasih artikel pencerahannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *