Trends & News

Buruknya Pemantauan Eksploitasi Seksual Anak Di Destinasi Wisata

By  | 

womanation.id – Powerful Woman, ternyata banyaknya tempat pariwisata di Indonesia bukan hanya memberikan keuntungan bagi daerah setempat maupun negara di sektor ekonomi, tetapi juga memberikan dampak buruk bagi anak-anak yang berada di daerah wisata tersebut. ECPAT Indonesia menyatakan, semakin banyak tempat pariwisata di suatu daerah, maka semakin rentan juga terjadinya eksploitasi seksual pada anak.

Menurut Andy Ardian – ECPAT Indonesia, “Tidak ada korban yang memiliki ciri-ciri secara spesifik, misalnya korban berasal dari keluarga yang kurang mampu. Walupun memang ada banyak anak yang berisiko terkena pelecehan ini, tapi banyak anak yang berasal dari keluarga berkecukupan juga memiliki risiko karena mereka tidak mempunyai proteksi yang cukup kuat dari keluarganya.”

Sebagai Sekretariat Koalisi Nasional dalam memerangi eksploitasi seksual anak di Indonesia, ECPAT Indonesia memandang pentingnya keterlibatan berbagai pihak termasuk media dalam memantau terjadinya eksploitasi seksual anak di destinasi wisata dan perjalanan. Hal ini dilatarbelakangi oleh minimnya pemberitaan dan peliputan investigasi di media dalam mengungkap fakta-fakta eksploitasi seksual anak di destinasi wisata dan perjalanan.

Berdasarkan hasil riset ECPAT Indonesia terhadap laporan sejumlah media, dari Januari sampai dengan Oktober 2017, ditemukan 394 kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak, namun hanya 2 kasus yang memberitakan tentang eksploitasi seksual anak di destinasi wisata. Mayoritas kasus kekerasan didominasi oleh pencabulan anak sebanyak 221 pemberitaan, pemerkosaan anak sebanyak 52 pemberitaan dan perdagangan anak untuk tujuan seksual dengan 51 pemberitaan. Berdasarkan analisis konten, pemberitaan di media juga cenderung tidak berpihak dan malah memberikan stigma yang buruk kepada korban. Beberapa liputan media ditemukan masih menyebutkan identitas dan lokasi tempat tinggal korban secara mendetail.

Jumlah Pemberitaan Media Terhadap Jenis Kekerasan Terhadap Anak

Minimnya pemberitaan media berbanding terbalik dengan temuan penelitian ECPAT Indonesia sepanjang tahun 2017. Berdasarkan Pemaparan Andy Ardian, Program Manager ECPAT Indonesia, hasil penelitian yang dilakukan ECPAT Indonesia bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPPPA) di empat wilayah destinasi wisata prioritas

(Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Garut, Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Karangasem) menemukan eksploitasi seksual anak masih marak terjadi di keempat wilayah tersebut. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Ringkasan Temuan Penelitian tentang Eksploitasi Seksual Anak di Destinasi Wisata

Fenomena eksploitasi seksual anak di destinasi wisata tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan turut terjadi secara global. Berdasarkan pemaparan Gabriel Khun dari ECPAT International, fenomena eksploitasi seksual anak terus meluas hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kejahatan seksual terhadap anak di destinasi tujuan wisata bukan saja dilakukan oleh pelaku berwarganegara asing, namun banyak juga wisatawan lokal yang memanfaatkan kesempatannya ketika berada di destinasi wisata untuk melakukan kejahatan seksual terhadap anak.

Berdasarkan situasi-situasi di atas, peran media menjadi penting untuk menghapuskan eksploitasi seksual anak di destinasi wisata. ECPAT Indonesia mendesak :

  1. Perlu dilakukan pemantauan menyeluruh situasi terkini eksploitasi seksual anak di destinasi wisata termasuk keterlibatan media dalam pemantauan
  2. Mendorong Kementerian Pariwisata dan penegak hukum agar ada upaya-upaya konkret untuk menanggulangi masalah eksploitasi seksual anak di destinasi
  3. Memberikan informasi dan edukasi kepada wisatawan agar menjadi wisatawan yang bertanggung jawab dan tidak melakukan kekerasan dan eksploitasi seksual anak di destinasi

 

ECPAT INDONESIA

Program Manager ECPAT INDONESIA

ANDY ARDIAN (0813-6156-3988/ andyardian@ecpatindonesia.org)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *