Ajak Generasi Muda Kejar Masa Depan, Vooya Kampanyekan Gerakan #TauApaMaumu

Facebook
Instagram
7FC3BE74-6F19-4450-A7AC-794C8BCD43D1

Passion masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Kurangnya pemahaman individu atas minat dan bakat yang mereka miliki, membuat passion tidak lagi menjadi permasalahan bagi individu saja, namun juga negara.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yang pertama adalah ekspektasi orang tua yang cenderung memaksakan ambisi kepada anak dan kurang memikirkan apa yang anak inginkan. Kedua, tekanan sosial memposisikan arti kesuksesan hanya dari sisi uang dan pencitraan.

Menurut Stephanie Wijanarko, Program Director Vooya, banyak pelajar yang mengambil keputusan kurang sesuai dan terburu-buru. Misalnya, mereka berpikir bahwa sedikit ketertarikan atau rasa menggebu-gebu terhadap sebuah bidang dapat langsung dianggap sebagai passion, padahal belum tentu.

“Bisa saja bidang tersebut saat itu lagi happening, sehingga mereka ikutan suka. Atau mereka benar-benar tertarik, tapi di sisi lain pura-pura nggak tahu kalau mereka nggak ada bakat sama sekali di bidang itu,” ungkap Stephanie.

Selanjutnya, sistem edukasi yang kurang memberikan pengarahan mengenai pentingnya mengetahui passion. Selain itu, sekolah di Indonesia hanya menginginkan para murid punya nilai yang bagus di semua pelajaran, tanpa melihat minat mereka.

Hal yang terakhir dan yang mungkin paling bisa dirasakan oleh generasi muda sekarang adalah keraguan atas diri sendiri dan generasi yang “mager”, alias malas gerak – generasi yang malas untuk riset atau mencari tahu mengenai jurusan yang mau diambil atau bahkan profesi yang ingin digeluti.

Passion juga bukan hanya sekedar memiliki karir bagus, gaji besar, atau kesuksesan diri. Dalam realitasnya, passion adalah tentang hasrat, sesuatu yang dikerjakan dengan tekun dan bahagia yang nantinya dapat pula menghasilkan.

“Banyak contoh orang-orang yang nggak tahu atau mengabaikan passion mereka dan terus melakukan hal yang mereka sebenarnya nggak sukai. Alasannya mungkin sederhana, karena itulah pekerjaan yang menghasilkan dan sebagainya. Mengabaikan passion bisa membuat seseorang menghadapi masa depan yang nggak bahagia dan penuh penyesalan,” tutur Stephanie.

Berawal dari kegelisahan, kesalahpahaman dan abainya individu terhadap passion ini akhirnya menginspirasi munculnya gerakan #TauApaMaumu, yang merupakan gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat Indonesia dalam menumbuhkan kepedulian terhadap diri sendiri, serta mengetahui apa yang benar-benar menjadi passion mereka. Gerakan #TauApaMauMu memberikan kesadaran akan pentingnya mengambil langkah untuk mewujudkan passion dan keinginan terdalam.

“Lewat gerakan #TauApaMaumu kami berharap dapat memberikan sebuah kontribusi nyata bagi generasi muda untuk dapat mengejar kesuksesan sesuai dengan keinginan diri. Vooya percaya terbentuknya generasi yang #TauApaMaumu dapat membangun masyarakat yang tangguh, passionate, produktif, yang akhirnya membuahkan kontribusi yang lebih maksimal bagi lingkungan ataupun sosialnya,” paparnya.

#TauApaMaumu Inspiration Session yang dilaksanakan pada Sabtu, 31 Agustus 2019 ini didukung oleh lebih dari 40 influencer tanah air, diantaranya Dias Kinanthi, seorang lulusan Sastra Jerman yang berhasil menjadi Diplomat sesuai passion-nya dan Barli Asmara yang cita-cita masa kecilnya ingin memiliki baju yang banyak, akhirnya dapat menjadi fashion designer ternama di Indonesia meski ditentang oleh orangtuanya.

“Ketika kita membesarkan suatu generasi yang tahu persis apa yang mereka inginkan dan lakukan, hal tersebut sama aja seperti membangun masyarakat yang penuh dengan gairah, ketekunan, produktifitas dan tentunya menghasilkan. Sudah saatnya setiap individu dapat memahami dirinya masing-masing, mengeksplorasi apa yang dimiliki dan inginkan demi tercapainya mimpi dan kehidupan yang sesuai,” tutup Stephanie. (marketplus.co.id)

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial