Ibu, Ajari Anak Anda untuk Menunda Kepuasan

Facebook
Instagram
no-image

Iya, anak-anak memang sangat penuntut. Apalagi mereka yang masih berusia balita dan sedang dalam tahap mengenal berbagai macam emosi diri. Bagaimana menyikapinya?

Womanation, sebagai orang tua, siapa yang tidak ingin memberikan segala hal yang diinginkan anak, bahkan sesaat setelah anak memintanya. Namun, faktor kondisi tidak melulu membuat kita bisa melakukan hal tersebut. Tahukah Anda bahwa selalu memberi hal yang anak inginkan dengan segera memiliki sisi jangka panjang yang mengkhawatirkan bagi perkembangan emosi mereka?

Tes Marshmallow

Pada 1960-an, seorang ahli psikologi bernama Walter Mischel melakukan penelitian terhadap anak-anak berusia 4‒5 di Taman Kanak-kanak di Stanford University. Setiap anak dibawa ke dalam satu ruangan dengan sebuah marshmallow diletakkan di atas meja di depan anak tersebut. Mereka boleh memakan marshmallow saat itu juga, tetapi jika mau menunggu 20 menit tanpa memakannya, mereka akan mendapat hadiah satu marshmallow lagi. Sebanyak sepertiga dari jumlah anak yang diteliti memakan marshmallow dengan segera, beberapa berusaha menunggu hingga kurun waktu kurang dari yang ditentukan, dan lainnya berhasil menunggu hingga Mischel kembali.

Menunda untuk Kepuasan Lebih di Masa Mendatang

Beberapa tahun berikutnya, setelah anak-anak tersebut menginjak sekolah menengah, didapati beberapa hal yang sangat signifikan antara anak yang tidak mau menunda kepuasan dengan anak yang berhasil menunda kepuasan. Perbedaan ini terutama terletak pada sifat emosional hingga nilai akademis mereka. Anak-anak yang berhasil menunda kepuasan lebih memiliki kecakapan sosial. Sifat empati, tidak mudah menyerah, bahkan cenderung siap terhadap tantangan serta dapat dipercaya dan diandalkan. Secara akademis, mereka lebih cerdas dan memperoleh nilai yang lebih tinggi dari mereka yang tidak dapat menunda kepuasan.

Sementara, kelompok anak yang segera memakan marshmallow cenderung tumbuh jadi remaja yang kurang memiliki kecakapan sosial, sering menjauhi hubungan sosial dengan orang lain, mudah putus asa, dan lebih mudah iri hati. Mereka juga menanggapi gangguan dari luar dengan kasar dan dengan cara yang berlebihan. Mereka kurang memiliki rasa percaya diri dan ragu dalam menghadapi suatu permasalahan. Mereka merasa diri mereka tidak berharga, mudah terkalahkan, dan tidak dapat dipercaya orang lain.

Bagaimana Menunda Kepuasan?

Womanation, belajar untuk menunda kepuasan ini sangat penting ya, bagi masa depan anak. Sikap ini berkaitan dengan kecerdasan emosional (EQ) yang ternyata lebih penting dari kecerdasan intelektual (IQ). Di tengah ketidakberdayaan menghadapi sikap anak yang banyak menuntut dan masih mempelajari banyak hal, bagaimana sikap terbaik Anda sebagai orang tua untuk bisa membiasakan anak menunda kepuasan?

Jadilah orang tua yang bisa bersikap tegas dan mengatakan tidak untuk sesuatu hal yang memang tidak mendesak, tidak penting, dan bisa ditunda. Misal, anak menginginkan mainan baru yang jenisnya tidak jauh berbeda dengan yang sudah dimilikinya. Anda bisa mengatakan tidak untuk mainan baru tersebut karena sudah ada, alihkan perhatian anak pada hal lain yang lebih bermanfaat untuknya (misal buku mewarnai berisi gambar mobil). Atau jika anak tertarik pada hal lain yang belum bisa dicapainya dengan segera, Anda bisa menyampaikan akan membelikan setelah uang tabungan terkumpul.

Bisa jadi sikap anak berbeda, menuntut untuk meminjam mainan teman secara paksa. Jika demikian, Anda bisa mengalihkan perhatian anak pada mainan lain yang tidak kalah menarik, meminta anak untuk bertukar mainan dengan temannya untuk sementara, atau bersabar hingga sang teman berkenan meminjamkan mainannya dengan terlebih dahulu bersikap baik dan meminjam dengan cara yang baik.

Womanation, orang tua akan menjadi cermin sikap dan sifat dari anak. Karenanya, jika Anda menginginkan anak Anda tumbuh jadi pribadi yang baik, jadilah orang tua yang baik. Jangan lupa, anak-anak masih dalam fase memelajari banyak hal. Bersabarlah ketika mereka membuat Anda lebih lelah. Namun, jangan lupa berikan penghargaan berupa pujian atau sesekali berikan hadiah kecil seperti es krim atau kue kesukaan saat anak berhasil menjalani tantangan yang Anda berikan.

Bagaimanapun, pepatah itu benar, “Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

 

 

Editor: Andiana Moedasir

 

Posted in
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial