Ibuprofen Saat Si Kecil Sakit, Perlukah?

Facebook
Instagram
no-image

Orang tua mana yang tidak cemas melihat buah hatinya, apalagi masih sangat kecil, sakit diiringi demam berkepanjangan. Banyak yang rela memberikan obat ampuh yang dirasa dapat mengatasai kondisi tersebut dengan segera. Jenis ibuprofen, tak terkecuali.

Apakah pemberian ibuprofen tepat? Sebenarnya apa itu ibuprofen? Womanation, mengetahui dengan baik kandungan, fungsi, dan risiko atau dampak jangka panjang suatu obat mutlak diperlukan bagi kita sebagai orang tua. Ya, kita harus cerdas mengenali obat sebelum memutuskan untuk memberikannya kepada buah hati.

Ibuprofen

Ibuprofen adalah golongan obat antiinflamasi non-steroid—AINS (Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs—NSAID) yang berfungsi sebagai pereda nyeri berbagai kondisi, seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri haid, nyeri otot, atau arthritis. Obat ini juga digunakan untuk menurunkan demam serta meredakan nyeri ringan dan sakit akibat pilek atau flu, termasuk untuk anak-anak. Ingat, pereda nyeri, ya, bukan penghilang sumber sakit!

Iburpofen, Perlukah?

Womanation, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi ibuprofen secara jangka panjang dapat menyebabkan risiko sakit jantung hingga stroke. Penelitian terbaru Food and Drug Administration (FDA) mengungkap bahwa penggunaan jangka pendek pun dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan dan meningkatkan peluang kesehatan yang lebih buruk di kemudian hari. Dua faktor utama yang dapat memperburuk risiko ini adalah: Berapa lama Anda telah mengonsumsi ibuprofen dan seberapa dosisnya.

Sebagai orang tua, kesalahan populer yang tidak jarang kita lakukan adalah memberikan dosis obat untuk orang dewasa kepada anak. Selayaknya, kita juga wajib mempertimbangkan postur tubuh, selain usia anak (ibuprofen dilarang keras untuk diberikan kepada anak di bawah usia 1 tahun). Dosis obat seharusnya diperkecil dari standar untuk anak dengan postur tubuh lebih kecil, meski usia sama. Ibuprofen memiliki risiko yang lebih tinggi jika digunakan secara berlebih, yaitu efek samping sesak nafas, rusaknya ginjal, radang usus, dan perdarahan.

Nah, bila anak Anda mengalami suatu gejala penyakit, termasuk yang diiringi dengan demam, pastikan Anda pertimbangkan beberapa hal berikut sebelum memutuskan memberi ibuprofen, salah satunya.

  1.     The American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa demam bukanlah penyakit, melainkan sebuah mekanisme tubuh dalam melawan infeksi bakteri atau virus. Karenanya, memberikan obat dengan dosis yang salah justru akan memperkuat penyakit tersebut. Hal terbaik yang dapat diberikan di awal adalah pemberian asupan air putih atau cairan yang banyak dan tepat. Pemberian buah juga dianjurkan untuk beberapa kondisi demam yang tidak disertai diare. Buah-buahan dengan cairan yang banyak, seperti melon, mampu menurunkan demam tanpa efek samping. Jika anak di bawah usia 1 tahun, pastikan Anda memberikan ASI lebih sering.
  2.     Secara berkala, cek suhu tubuh anak menggunakan termometer.Jika dalam waktu 1 x 24 jam panasnya tinggi (di atas 38 derajat Celcius) dan tidak kunjung turun, coba pemberian obat penurun panas yang aman dan sesuai petunjuk penggunaan. Pastikan, obat penurun panas diminum setelah makan. Asupan ini penting untuk proses bekerjanya obat dalam tubuh.
  3.     Jika panas tidak turun dalam tiga hari, konsultasilah ke dokter anak. Ceritakan dengan sebenar-benarnya apa yang terjadi. Informasi kita berguna bagi analisis dokter. Setelah itu, ikuti sarannya.

Womanation, memang tidak ada larangan tegas perihal penggunaan ibuprofen sebagai obat pereda sakit atau penurun panas, terutama untuk anak. Namun, berhati-hati adalah jalan terbaik. Setidaknya, pertimbangkan semua alternatif pengobatan yang ada dan dapatkan bantuan dari penyedia layanan kesehatan. Intinya, jangan memperlakukan obat-obatan seperti permen, ya!

 

 

Editor: Andiana Moedasir

 

Posted in
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial