The current Bet365 opening offer for new customers is market-leading bet365 mobile app You can get a free bet right now when you open an account.

Mengenal Para Pelopor Jurnalis Perempuan Indonesia

Mengenal Para Pelopor Jurnalis Perempuan Indonesia

 

Bulan Februari ini, bukan hanya dikenal sebagai bulan kasih sayang tapi juga di bulan ini tepatnya tanggal 9 Februari merupakan Hari Pers Nasional (HPN). Peran jurnalis hari ini tidak bisa dilepas begitu saja dengan peran tokoh-tokoh sebelumnya. Mereka tak sekadar memberitakan informasi tentang perjuangan bangsa tapi juga ikut memberikan semangat nasionalisme lewat tulisan-tulisan kritisnya. Sejarah mencatat ada beberapa jurnalis perempuan yang dengan berani memperjuangkan haknya dan juga ikut andil dalam memberantas anti kolonialisme hingga mendapat ancaman penjara dan pengasingan saat itu

Siapa saja mereka? Berikut para pelopor jurnalis perempuan Indonesia.

Roehana Koeddoes

Lahir pada tanggal 20 Desember 1984 di Sumatera Barat dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 Roehana Koeddoes adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga Bibi dari Chairil Anwar, penyair terkenal. Ia juga sepupu dari H. Agus Salim, Menteri Luar Negeri Indonesia yang ketiga dan juga pahlawan kemerdekaan Indonesia.

Roehana hidup pada zaman yang sama dengan R.A Kartini dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan masih dibatasi. Karirnya menjadi jurnalis dimulai saat ia mendirikan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang diberi nama Sunting Melayu pada tanggal 10 Juli 1912. Selain itu, ia juga pernah memimpin surat kabar Perempuan Bergerak dan redaktur surat kabar Radio di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatera. Roehana Koeddoes mengabdikan dirinya kepada bangsa dan Negara pada dunia pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Sehingga,ia dianugerahi sebagai Perintis Pers Indonesia oleh Menteri Penerangan Harmoko pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987.

Rasuna Said

Namanya pasti tidak asing di telinga warga Jakarta karena nama ini dipakai sebagai salah satu jalan di pusat perkantoran Jakarta. Rasuna Said lahir di Sumatera Barat, 14 September 1910  dan meninggal di Jakarta, 2 November1965. Ia adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga merupakan pahlawan nasional Indonesia. Pada tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi di majalah Raya. Majalah ini dikenal radikal, bahkan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatera Barat. Namun polisi rahasia Belanda (PID) mempersempit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawan. Sehingga pada tahun 1937, ia pindah ke Medan lalu mendirikan perguruan putri. Disana ia membuat majalah mingguan bernama Menara Poeteri. Ia mengasuh rubrik "Pojok" dan di koran ini ia membuat sasaran pokoknya adalah memasukkan kesadaran pergerakan, yaitu antikolonialisme, di tengah-tengah kaum perempuan. Tulisan-tulisannya dikenal tajam, kupasannya mengena sasaran, dan selalu mengambil sikap lantang antikolonial.

Sebuah koran di Surabaya, Penyebar Semangat, pernah menulis perihal Menara Poetri, "Di Medan ada sebuah surat kabar bernama Menara Poetri; isinya dimaksudkan untuk jagad keputrian. Bahasanya bagus, dipimpin oleh Rangkayo Rasuna Said, seorang putri yang pernah masuk penjara karena berkorban untuk pergerakan nasional." Akan tetapi, koran Menara Poetri tidak berumur panjang. Hal ini karena hanya 10% pelanggan Menara poetry yang membayar tagihan, sisanya tidak membayar tagihan korannya. Karena itu, Menara Poetri pun ditutup. Setelah Indonesia merdeka, beliau aktif di berbagai badan pemerintah dan tinggal di Jakarta sampai akhir hayatnya.

 S. K Trimurti

Surastri Karma Trimurti lahir di Solo, 11 Mei 1912 dan meninggal di Jakarta, 20 Mei 2008. Ia adalah tokoh dalam gerakan kemerdekaan Indonesia terhadap penjajahan oleh Belanda. Ia juga pernah menjabat sebagai menteri tenaga kerja pertama di Indonesia dari tahun 1947 – 1948. Ia pernah di penjara selama 9 bulan di Semarang oleh pemerintah Belanda karena menyebarkan pamflet anti kolonialisme.

Trimurti pun beralih karier ke dunia jurnalistik setelah dia dibebaskan dari penjara. Dia menjadi sosok yang terkenal terkenal di kalangan wartawan karena tulisannya yang kritis lewat beberapa surat kabar seperti Pikiran Rakyat, Genderang, dan Bedung. Tidak hanya sampai situ, ia bersama suaminya Sayuti Melik, pengetik teks proklamasi menerbitkan surat kabar bertajuk Pesat di zaman pendudukan Jepang. Namun sayang Pesat dilarang oleh pemerintah militer Jepang sehingga ia kembali ditangkap dan disiksa.

Herawati Diah

Siti Latifah Herawati Diah lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 3 April 1917 dan meninggal di Jakarta, 30 September 2016. Ia adalah istri dari tokoh pers yang juga mantan Menteri Penerangan, B.M. Diah. Herawati pendidikan di Amerika Serikat tepatnya di Barnard College dengan jurusan sosiologi dan lulus pada tahun 1941. Kemudian pada tahun 1942, ia bekerja sebagai wartawan lepas kantor berita United Press International (UPI) kemudian bergabung sebagai penyiar di radio Hosokyoku. Setelah sang suami mendirikan Harian Merdeka, pada tahun 1955, Herawati dan suaminya mendirikan The Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia. Koran itu diterbitkan dan dibagikan pertama kali dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat. The Indonesian Observer bertahan hingga tahun 2001, sedangkan koran Merdeka berganti tangan pada akhir tahun 1999. Herawati dianugerahi lifetime achievement award dari Persatuan Wartawan Indonesia berkat perannya dalam dunia pers Indonesia.