The current Bet365 opening offer for new customers is market-leading bet365 mobile app You can get a free bet right now when you open an account.

Autisme dan Bagaimana Cara Orangtua Menanganinya

Autisme dan Bagaimana Cara Orangtua Menanganinya

Pernahkah Anda melihat atau bertemu dengan anak yang tidak menyahut atau tidak memandang mata pembicara ketika diajak bicara? Bisa jadi anak tersebut menderita autisme. Tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia. Untuk bisa lebih peduli dengan kondisi ini, baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan autisme, penyebab, dan cara menanganinya.

 

Apa Itu Autisme?

Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas (penurunan sifat genetik dari orang tua ke anak) dan gejalanya dapat dideteksi saat anak berusia tiga puluh bulan sejak kelahiran hingga usia maksimal tiga tahun. Autism bukanlah penyakit kejiwaan karena merupakan gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandangnya.

Gejala Autisme

Anak dengan gangguan ini dapat tampak normal pada tahun pertama maupun kedua kehidupannya. Para orang tua sering kali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangsangan dari kelima panca inderanya.

Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyang badan, atau mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan.

Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas, dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada penyandang autisme adalah respons-respons yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan, dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.

Terdapat arahan dan pedoman bagi para orangtua dan praktisi untuk lebih waspada dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan memerlukan evaluasi lebih lanjut.:

1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan.
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, menggenggam) hingga usia 12 bulan.
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan.
4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan.
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu.

 
Penanganan Autisme

Jika menunjukkan gejala kelima “lampu merah” tersebut, belum tentu anak memiliki gangguan ini. Ada baiknya anak mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang meliputi Neurologi, Psikologi, Pediatrik, Terapi Bicara, Pedagogi, dan profesi lain yang memahami persoalan autisme karena karakteristik gangguan autisme sangat beragam. Dokter spesialis yang cocok untuk mendeteksi autisme adalah Dokter Spesialis Anak (Sp.A) dibantu Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Sp.KJ) untuk mengetahui antara lain tingkat kecerdasan balita.

Pemeriksaan dari Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher (Sp.THT-KL) pun diperlukan untuk mengetahui antara lain adanya masalah pada pendengaran sehingga menyebabkan balita tidak/kurang responsif terhadap suara atau bahkan tidak dapat berkata-kata. Pemeriksaan-pemeriksaan ini penting untuk menghindari kita dari sekadar menduga-duga apakah anak menderita autisme.

 

Image via theoddysseyonline.com

Editor: Andiana Moedasir