The current Bet365 opening offer for new customers is market-leading bet365 mobile app You can get a free bet right now when you open an account.

Cuti Melahirkan Sungguh Nikmat!

Cuti Melahirkan Sungguh Nikmat!

Saat usia kandungan memasuki bulan ketujuh, banyak (calon) ibu bekerja yang bingung untuk menentukan kapan waktu terbaik bagi mereka memulai cuti. Apakah detik-detik jelang kelahiran agar waktu bersama bayi nantinya terasa lebih lama?

Ataukah, sebulan hingga satu setengah bulan sebelum melahirkan agar dapat mempersiapkan momen kelahiran dengan sangat baik? Kapan pun, semuanya memiliki kendala yang sama, yaitu merasa berat meninggalkan sang bayi jelang masa cuti berakhir. Betul?

Kondisi wanita saat hamil hingga pascamelahirkan tentu tidak senormal biasanya. Banyak yang berubah. Karenanya dibutuhkan waktu khusus untuk mempersiapakan diri jelang dan pascamelahirkan, bahkan untuk pemulihan kondisi. Bahkan dikatakan, asupan ASI dengan kondisi ibu yang tidak stabil akan sulit terwujud. Ibu (bekerja), membutuhkan dukungan dari segala pihak: Keluarga, perusahaan dan lingkungan kerja, dan tentu saja pemerintah!

Dukungan Pemerintah

Sebagai wujud dukungannya, pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. ASI merupakan hak dasar dan sebuah kepentingan yang tidak boleh dianggap remeh. Asupan ASI yang baik, terutama untuk pemberian ASI Eksklusif, sulit terwujud jika tidak ada dukungan dari segala sisi.

Selain itu, Pemerintah juga menetapkan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 Pasal 82, “Pekerja perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.”

Namun dalam pelaksanaannya, kebijakan tiap perusahaan di Indonesia berbeda dan beberapa perusahaan memberikan keleluasan kepada karyawan untuk menentukan waktu cuti mereka. Walaupun penentuan waktu cuti bisa berbeda, tiap perusahaan di Indonesia berpegang pada UU yang ditetapkan Pemerintah tersebut untuk memberikan masa cuti kepada karyawan selama tiga bulan tanpa mengurangi hak gaji yang diberikan kepada mereka.

Perusahaan dengan Cuti Melahirkan Terlama

Merujuk pada peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah mengenai hak cuti melahirkan bagi karyawan perempuan, beberapa perusahaan berikut memberikan kebijakan cuti lebih lama sebagai wujud dukungan terhadap ibu melahirkan dan terciptanya generasi ASI Eksklusif yang sehat.

  1.     PT Sari Husada. Sejak April 2011, perusahaan penghasil produk nutrisi untuk ibu dan balita ini memberikan hak cuti selama empat bulan, lebih lama satu bulan dari peraturan pemerintah.
  2.     PT Danone Indonesia. Perusahaan yang membawahi Aqua, Sari Husada, Nutricia, dan Nutricia Advanced Medical Nutrition ini memberikan kebijakan cuti melahirkan selama enam bulan. Selain itu, perusahaan ini juga memberikan cuti bagi karyawan pria yang istrinya melahirkan, total selama 10 hari.
  3.     Opal Communication. Sejak 2015, perusahaan ini menerapkan aturan cuti melahirkan selama enam bulan untuk karyawan wanita. Bukan hanya lebih lama dari perusahaan lainnya, pada awal Januari 2017 perusahaan ini menerapkan kebijakan cuti melahirkan bagi pria (paternity leave) selama satu bulan untuk menemani istri yang melahirkan.

 

Beberapa Negara dengan Kebijakan Cuti Melahirkan Terlama

Mengapa beberapa negara menerapkan kebijakan cuti jauh lebih lama dari Indonesia? Karena tingkat populasi di wilayah mereka cenderung rendah, bahkan beberapa dikatakan hampir kehilangan 30 hingga 50% jumlah populasi. Terbayang jika negara-negara tersebut harus kehilangan generasi penerus?

Karenanya, dukungan terbaik mereka berikan untuk warga yang hamil dan melahirkan, termasuk dalam rangka pemberian ASI Eksklusif demi terciptanya generasi penerus yang berkualitas. Negara mana saja?

  1.     Swedia: 420 hari (sekitar 1 tahun 2 bulan)
  2.     Denmark: 52 minggu (sekitar 1 tahun 1 bulan)
  3.     Bosnia & Herzegovina: 1 tahun
  4.     Norwegia: 36-46 minggu (sekitar 9‒11,5 bulan)

 

 

Editor: Andiana Moedasir