The current Bet365 opening offer for new customers is market-leading bet365 mobile app You can get a free bet right now when you open an account.

Stop Kekerasan Seksual pada Anak!

Stop Kekerasan Seksual pada Anak!

Beberapa waktu terakhir, berita tentang kekerasan seksual pada anak makin marak. Jangan remehkan! Tentu tidak ada orang tua yang menginginkan hal buruk tersebut terjadi kepada anak-anak mereka serta merasakan penyesalan seumur hidup, bukan?

Womanation, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada 2011 ada 216 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan, pada 2014 sebanyak 656 kasus (Kompas, 16/12/2015). Pada 2016, KPAI menerima 3.581 kasus pengaduan masyarakat. Dari jumlah itu, sebanyak 414 kasus merupakan kasus kejahatan anak berbasis siber (Kompas, 17/3/2017).

Sementara, berdasarkan Survei Kekerasan Anak Indonesia kerja sama Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), serta sejumlah lembaga pada 2014, ditemukan bahwa umumnya kekerasan seksual yang dialami kelompok laki-laki dan perempuan usia 18-24 tahun tinggi.

Jenis kekerasan seksual sebelum umur 18 tahun yang dialami anak laki-laki sebesar 6,36 persen dan anak perempuan 6,28 persen. Dengan demikian, jika 6 persen lebih dari sekitar 87 juta anak Indonesia, berarti ada 400.000 lebih anak yang mengalami kekerasan seksual.

Kenali

Kekerasan seksual pada anak adalah segala jenis kontak seksual antara orang dewasa kepada siapa pun yang berumur di bawah 18 tahun, tidak terbatas pada hubungan seks. Selain itu, dikatakan kekerasan seksual pada anak jika salah satu pelakunya lebih tua atau lebih dominan, tanpa melihat seberapa tua usia pelakunya.

 

Beberapa tindakan berikut juga dapat dikatakan sebagai kekerasan seksual pada anak.

  1.     Menyentuh tubuh anak secara seksual, baik si anak memakai pakaian atau tidak.
  2.     Segala bentuk penetrasi seks, termasuk penetrasi ke mulut anak menggunakan benda atau anggota tubuh.
  3.     Membuat/memaksa anak terlibat dalam aktivitas seksual.
  4.     Secara sengaja melakukan aktivitas seksual di hadapan anak, atau tidak melindungi dan mencegah anak menyaksikan aktivitas seksual yang dilakukan orang lain.
  5.     Membuat, mendistribusikan, dan menampilkan gambar atau film yang mengandung adegan anak-anak dalam pose atau tindakan tidak senonoh.
  6.     Memperlihatkan kepada anak gambar, foto, atau film yang menampilkan aktivitas seksual.

Perhatikan Gejalanya

  1.     Perilaku anak cenderung berubah, menarik dari, agresif, tiba-tiba manja, sering mengompol, susah tidur, juga menghindari seseorang.
  2.     Anak merasa nyeri pada kemaluan atau dubur mereka. Dalam beberapa kasus, anak ditemukan mengalami infeksi menular seksual atau bahkan hamil, juga kesulitan berjalan atau susah duduk. Periksa secara saksama pakaian anak. Kekerasan seksual biasanya meninggalkan bekas berupa bercak darah di pakaian anak.
  3.     Anak memperlihatkan perilaku atau pengetahuan tentang seks yang tidak sesuai dengan usia mereka. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan anak yang mengalami kekerasan seksual juga melakukan hal yang sama kepada anak-anak lain.
  4.     Anak mengalami penurunan prestasi karena kesulitan belajar dan fokus.

 

Waspada

Kebanyakan kasus kekerasan seksual pada anak sulit untuk dideteksi. Anak cenderung merasa takut untuk bercerita, entah karena khawatir tidak dipercaya atau merasa diancam. Penting bagi kita untuk pandai membaca “sinyal” yang mungkin diberikan anak. Selain itu, beberapa hal berikut bisa membuat Anda lebih waspada akan bahaya kekerasan seksual yang mungkin mengintai anak Anda.

  1.     Sebagian besar, hampir 95% pelaku adalah orang terdekat, bahkan dalam lingkup keluarga.
  2.     Lokasi kekerasan seksual biasanya adalah tempat yang familiar sehingga tidak membuat Anda mudah khawatir saat anak Anda berada di dalamnya.
  3.     Ajarkan anak Anda untuk bisa membedakan sentuhan karena sayang dan sentuhan karena ingin merangsang.
  4.     Ajarkan anak Anda untuk berani berkata tidak, menolak, bahkan berteriak jika merasa terancam.
  5.     Ajarkan anak Anda untuk terbiasa bercerita kepada Anda, sebagai orang terdekat dan dapat dipercaya olehnya, hal sekecil apa pun.

 

Womanation, mengingat gentingnya perihal ini demi masa depan anak-anak kita, mari jadi bagian yang berani menyuarakan kebenaran. Bagaimanapun, kebahagiaan, kenyamanan, dan kehidupan yang aman adalah hak setiap warga negara, termasuk anak-anak di dalamnya.

 

Editor: Andiana Moedasir