The current Bet365 opening offer for new customers is market-leading bet365 mobile app You can get a free bet right now when you open an account.

Mengapa Making Love dan Having Sex Berbeda?

Mengapa Making Love dan Having Sex Berbeda?

Pasangan mana yang tidak senang melakukan aktivitas satu ini: Bercinta? Bukan saja nyaman, ada rasa lain yang timbul selepasnya. Iya, apa ya namanya?

Bercinta sebaiknya dilakukan secara rutin bagi pasangan. Selain efek tenang dan nyaman yang ditimbulkannya, bercinta juga mampu jadi aktivitas yang menyehatkan, setara dengan melakukan olahraga. Namun di balik fakta tersebut, ada hal lain yang mungkin bisa kita pelajari tentang aktivitas ini. Bercinta ternyata bisa terbagi dalam dua aktivitas yang berbeda makna: Making love dan having sex. Wah!love

Making Love

Womanation, jika dipadankan dalam istilah berbahasa Indonesia, making love bisa diartikan dengan hubungan intim. Artinya, hubungan yang terjadi dan dilakukan secara intim. Bukan sekadar kontak fisik, hubungan intim jauh melibatkan ikatan emosional yang terjalin di antara pihak-pihak yang melakukannya. Selain itu, hubungan intim terjadi melalui serangkaian tahapan yang lebih lambat dan lembut, mungkin disertai dengan candaan atau obrolan ringan.

Hubungan intim memungkinkan para pelakunya mengikat perasaan secara lebih dalam. Efek yang ditimbulkannya pun menstimulasi ikatan rasa yang menguat di antara penikmatnya. Ada rasa saling percaya, lebih mengenal satu sama lain, dan memungkinkan cinta yang tumbuh lebih besar. Hubungan intim seperti sajian menu lengkap kontak fisik, perasaan yang dalam, dan ikatan emosional atau mental. Sejatinya hubungan ini sangat dinikmati sebagai ekspresi cinta pasangan suami-istri.

Having Sex

Sebagian orang menerjemahkan having sex sebagai hubungan yang lebih “biasa” dari hubungan intim. Mereka menyebutnya dengan istilah hubungan seks. Berbeda dengan hubungan intim yang terkesan lebih romantis, hubungan seks terkesan lebih sesaat, liar, dan menjadikan kepuasan sebagai tujuan akhir.

Hubungan seks lebih mengutamakan aktivitas fisik daripada “bumbu” ikatan emosional yang dalam, rasa cinta atau kasih sayang, di antara pelakunya. Efek yang ditimbulkannya pun tidak sedalam hubungan intim. Hubungan seks lebih seperti petualangan yang berhenti di satu titik waktu, belum tentu pelakunya ingin melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya.

Bukan tidak mungkin pasangan suami-istri mengalami hubungan ini. Bisa jadi kondisi tertentu “memaksa” mereka melakukan hubungan yang membuat mereka saling menutup perasaan masing-masing saat bercinta sehingga hanya hubungan seks yang mereka alami dan rasakan. Bisa jadi suami-istri berasa pada fase “hambar” dan memaksa mereka melakukan hubungan seks alih-alih hubungan intim sebagai pemenuh kebutuhan biologis.

Womanation, bagaimana Anda memaknai hubungan Anda dengan pasangan? Apa pun, cobalah jujur dengan diri sendiri untuk kemudian jujur dengan pasangan. Yakinlah kejujuran yang disampaikan akan membawa kebaikan dan mengikatkan perasaan cinta yang lebih dalam antara Anda dan pasangan.

 

 

Editor: Andiana Moedasir