Lactashare Telah Menyalurkan 650 Liter ASI

Facebook
Instagram
Foto lactashare

Lactashare, sosiopreneur yang dilahirkan di kota Malang pada 11 Mei 2017. Lactashare diluncurkan untuk membantu bayi yang terancam tidak bisa mendapat ASI dari ibunya.

Dengan visi Bayi Sehat Indonesia, Lactashare mendedikasikan diri untuk merapikan proses donor ASI di Indonesia. Agar terjadi hanya atas indikasi medis, dengan prosedur yang aman, tepat, cepat, terpercaya dan sesuai syari’at hukum ibu sepersusuan.

Donor ASI adalah benar suatu solusi yang selaras dengan anjuran WHO sebagai langkah alternatif kedua setelah ASI dari ibu kandungnya sendiri. Namun, belum hadirnya lembaga profesional sejenis Bank ASI di Indonesia, membuat para ibu yang kelebihan ASI tidak terfasilitasi dengan baik, sehingga media sosial menjadi sarana pelarian termudah untuk proses donor ASI, disamping juga kerena telah adanya supply dan demand.

Padahal, minimnya pengetahuan calon donor dan calon resipien mengenai prosedur donor ASI yang aman dan sesuai agama, membuat proses donor ASI yang terlanjur marak di media sosial, terjadi secara gampangan dan serampangan.

Keprihatinan terhadap proses donor ASI yang tidak dikawal oleh tenaga medis yang ahli di bidangnya, membuat dr.Meralda Nindyasti memiliki ide untuk membuat sebuah aplikasi penghubung antara donor dan resipien ASI.

Dicetuskan dalam program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital besutan Kemenkominfo, ide tersebut tereksekusi dan hingga hari ini telah berhasil menyalurkan 650 liter ASI donor kepada bayi yang membutuhkan atas indikasi medis.

Sebagai sebuah startup yang berhasil masuk 20 besar Nextdev Indonesia 2017,  Lactashare memiliki banyak keunikan. Seperti dijelaskan Meralda secara tertulis, berikut keunikannya :

1. Pendonor wajib mengisi formulir kesehatan calon donor yang kemudian akan dilakukan screening darah melalui laboratorium untuk membuktikan bebas dari penyakit yang menular lewat ASI, meliputi pemeriksaan HIV AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C, Syphilis dan CMV. Di mana biaya screening darah senilai 2 juta per pendonor tersebut ditanggung penuh oleh Lactashare.

2. Setiap pengajuan permintaan ASI dari calon resipien kepada Lactashare, akan ditelaah dan diverifikasi melalui wawancara. Hanya yang terbukti indikasi medis, yang pengajuannya diterima oleh Lactashare. Sehingga proses donor ASI tersebut akan difasilitasi.

Sedangkan yang tidak terbukti indikasi medis, pengajuan permintaan ASI akan ditolak dan diberi solusi untuk konsultasi laktasi baik online ataupun offline dengan konselor laktasi terdekat agar calon resipien tersebut bisa berdaya menyusui.

3. Setiap pasangan donor dan resipien yang telah memenuhi syarat terjadinya mahram persusuan sebagaimana dalam Fatwa MUI, akan mendapat sertifikat sepersusuan dari Lactashare sehingga pencatatan mahram terjaga untuk memininalisir terjadinya pernikahan antar mahram kelak kemudian hari.

Inovasi ke depannya adalah menciptakan fitur tracking mahram sehingga keluarga donor dan resipien dapat memperbaharui data diri dan keluarga dimana dapat mengubah/menambah status kemahraman pada kedua belah pihak. D tersebut dapat diakses hingga 30 tahun mendatang yang akan berguna sebagai pengingat agar tidak terjadi pernikahan antar mahram pada usia anak yang telah siap untuk menikah.

4. Lactashare tidak memperjualbelikan ASI. Karena hal tersebut bertentangan dengan syariat Islam.

5. Lactashare bekerja sama dengan beberapa dokter anak, sehingga apabila ada bayi prematur yang terlahir di RS, dapat segera mendapatkan ASI donor, jika ASI ibu kandung belum memadai. Karena hanya ASI yang menyehatkan dan menyembuhkan. Sebagaimana hal tersebut sesuai dengan rekomendasi WHO mengenai hierarki asupan nutrisi bayi prematur.

6. Lactashare memiliki fitur premium yaitu konsultasi laktasi online berbayar, dengan biaya konsultasi 1.000 rupiah perhari. Dan Lactashare juga memiliki e-commerce seputar kebutuhan ibu, bayi dan anak.

7. Sepak terjang Lactashare telah dimuat di media Korea Selatan, The Hankyoreh pada 9 Juli 2018 dalam tema “Women Founder Indonesia”, dan pada Maret 2018 lalu Lactashare diundang ke Amerika untuk mengikuti program YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative) dan Co Founder Lactashare memenuhi undangan tersebut untuk memperdalam ilmu mengenai sosioenterprise selama 1 bulan di Uconn, Connecticut US.

Menyambut pekan ASI Sedunia pada 1-7 Agustus 2018, Lactashare memacu diri agar bisa sesegera mungkin secara resmi berdiri sebagai Lactashare Foundation. Lactashare akan mendedikasikan diri sebagai cikal bakal Bank ASI (Lembaga Wakaf ASI) pertama di Indonesia.

“Kami teguh niat untuk memperjuangan cita-cita ini. Karena hanya ASI, nutrisi terbaik yang akan menumbuhkan generasi gemilang bagi masa depan Indonesia,” ungkap Meralda.

 

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial