Let’s Speak Up! Sebarkan Semangat Positifmu!

Facebook
Instagram
no-image

Powerful Woman, kasus bullying yang semakin marak di Indonesia kini bukan hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi mulai banyak juga dirasakan oleh anak-anak usia pelajar. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan adanya peningkatan kasus bullying di kalangan pelajar Indonesia, terlihat dari angka pelaku bullying yang bertambah.

Menurut data KPAI, sejak tahun 2011 hingga 2016 KPAI telah menemukan sekitar 253 kasus, terdiri dari 122 anak yang menjadi korban dan 131 anak menjadi pelaku. Data ini tidak jauh berbeda seperti yang diungkapkan oleh Kementrian Sosial. Hingga Juni 2017, Kementrian Sosial sendiri telah menerima laporan 976 kasus di mana sebanyak 117 kasus adalah terkait bullying. Namun dari data ini muncul kekhawatiran lainnya, yaitu jumlah kasus lainnya yang tidak dilaporkan.

Kondisi seperti inilah yang menjadi perhatian penuh YUPI sebagai produsen permen gummy nomor satu di Indonesia. Bertujuan untuk mengajak anak muda menyebarkan sikap positif untuk prestasi yang lebih baik lagi, YUPI meluncurkan kampanye Let’s Speak Up! yang digelar mulai dari September 2017. Kampanye ini merupakan salah satu dari berbagai bentuk ajakan YUPI yang secara agresif dan berkesinambungan menyuarakan pentingnya sikap positif pada generasi muda.

“Bullying menjadi masalah serius di kalangan anak-anak remaja karena memiliki dampak psikologis dan juga dapat membuat prestasi mereka di sekolah menurun. Pada jangka panjang bully dapat mempengaruhi kualitas hidup pada masa dewasa,” jelas Anna Lumintang, Marketing Manager PT. Yupi Indo Jelly Gum. “Kami percaya sangat penting untuk menanamkan sikap dan attitude yang positif pada generasi muda – berani menyuarakan sikap tegas menolak bully dan menjadi lebih berprestasi.”

Selain karena adanya jiwa kompetitif yang memunculkan rasa ingin lebih unggul dibanding teman-temannya (Rigby K., Bullying in Schools, 2007), perilaku bully muncul karena adanya kesenjangan kekuatan antara korban dan pelaku yang diikuti dengan pengulangan perilaku, dan ini membahayakan korban dan pelaku sendiri.

“Banyak dampak yang bisa terjadi dari kasus bully baik secara psikologis, mental, dan juga fisik. Seringkali yang terjadi adalah remaja belum dapat mengidentifikasi hal-hal di sekeliling mereka, sehingga tidak mendapatkan solusinya. Remaja kemudian mencari jalan keluar lain seperti mem-bully – korban bisa menjadi pelaku dan pelaku dapat menjadi korban pula,” jelas Yasinta Indrianti, M.Psi, psikolog dari EduPsycho Research Institute yang berfokus pada pendidikan anak remaja.

Dilanjutkan Yasinta, masa remaja merupakan periode penting bagi anak-anak yang beranjak dewasa dalam menentukan dan membangun jati diri. Masa ini banyak diwarnai dengan sikap yang lebih kritis dalam pergaulan sehari-hari atau di keluarga, ketertarikan akan hal-hal tertentu, maupun prestasi di sekolah. Namun sayangnya, belum semua remaja memiliki cukup kemampuan dalam mengidentifikasi hal-hal yang terjadi dalam periode ini, termasuk untuk dapat menyikapinya secara positif. “Remaja dapat dibangun sikap positifnya, sehingga ia dapat memandang persaingan dan jiwa kompetitif tersebut dari kacamata positif yang membangun dan berprestasi, bukannya menjatuhkan atau saling mengalahkan.”

Karena itu, untuk membangun dan memupuk sikap positif tersebut, diperlukan dukungan pola asuh yang baik dari orang tua di lingkungan keluarga, dan juga para guru di sekolah mengingat kasus bully banyak terjadi di lingkungan sekolah. Yasinta menambahkan, sikap positif para remaja dapat memutus rantai perilaku negatif sehingga secara psikologis dan emosional mereka dapat lebih cemerlang dan berprestasi. Karena itu harus dipastikan orang tua dan guru dapat menjadi teman dan pelindung yang dapat memberikan solusi dari hal-hal yang mereka hadapi di masa remaja.

Posted in
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial