Pentingnya Aspek Permainan Imajinatif pada Generasi Alfa

Facebook
Instagram
Merry dan Baby Moonella (2)-min

Generasi Alfa, sebuah generasi di abad ke-21 dimulai dari tahun kelahiran 2010- dimana mayoritas ialah anak dari generasi Millenial atau generasi Y. Pada generasi ini, perkembangan teknologi menjadi salah satu ciri khas bersamaan dengan tumbuh kembang seorang anak. Sebagai spesialis pada mainan edukatif, Early Learning Centre (ELC) berbagi informasi pada orangtua untuk mempersiapkan hal-hal yang berkaitan pada proses perkembangan anak melalui bermain. Informasi pada Seri booklet terbaru bertajuk “The Power of Play” membahas mengenai fungsi permainan imajinatif pada setiap kategori umur anak sesuai dengan aspek perkembangannya.

Berdasarkan studi dari The United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF, 2018) yang berjudul ‘Early Moments Matter’ dikemukakan bahwa pada tahun-tahun pertama kehidupannya, neuron di otak manusia membentuk koneksi baru dengan kecepatan “mengejutkan” 700-1.000 per detik – suatu kecepatan yang tidak pernah terulang lagi. Koneksi ini adalah blok bangunan masa depan anak dari proses tumbuh kembangnya. Anak-anak yang melakukan permainan imajinatif dengan memainkan peran-peran tertentu dapat menghadapi tantangan dengan lebih baik di kemudian hari.

Lina Paulina, selaku Vice President Early Learning Centre Indonesia mengungkapkan, “Bermain adalah “pekerjaan penuh waktu” anak-anak dan yang membuat otak mereka mendukung aspek tumbuh kembangnya. Hal yang kami lakukan adalah untuk memfasilitasi kiat-kiat bermain pada kemasan, demonstrasi bermain, serta waktu bermain di toko yang termasuk dalam upaya membiasakan permainan imajinasi pada anak”, ujar Lina Paulina, Vice President Early Learning Centre Indonesia.

Berbagai manfaat dalam bermain imajinasi pada anak diantaranya: meningkatkan aspek kognitif, kemampuan berbahasa, serta kemampuan anak mengoptimalkan aspek sosial emosional pada dirinya. Permainan imajinatif memiliki dampak terbesar pada pengembangan keterampilan kunci yang penting bagi keberhasilan anak-anak dengan teman sebaya. Saat bermain kreatif dengan teman-teman mereka, anak-anak belajar untuk bekerja sama dan berkompromi.

Psikolog pendidikan dan pendiri Rumah Dandelion, Binky Paramitha mengatakan, “Permainan imajinasi mulai muncul di usia 18 bulan, semakin komplek dan sering dilakukan ketika anak berusia 3 tahun. Anak mengembangkan ketertarikan pada dunia orang dewasa dan ingin menjadi bagian dari dunia tersebut.”

Salah satu tokoh yang banyak meneliti tentang permainan imajinasi adalah Vygotsky. Menurut Vygotsky, saat melakukan permainan imajinasi, ada tiga komponen yang perlu anak lakukan: (1) menciptakan situasi imajinasi, (2) menetapkan suatu tokoh/karakter dan memerankannya, (3) mengikuti aturan-aturan tertentu untuk memerankan tokoh/karakter dengan baik.

Permainan imajinasi menekankan pada nilai bermain dengan boneka dan tokoh aksi mainan. Bentuk permainan ini mendorong anak-anak untuk belajar bagaimana berinteraksi secara sosial dan mengembangkan isyarat sosial dengan bereksperimen dengan kontak mata, menggunakan nada dan emosi yang berbeda.

Anak-anak juga belajar melakukan percakapan, yang mereka lakukan dengan berbicara dengan boneka dan tokoh aksi mereka dan membayangkan tanggapan. Bermain dengan tokoh-tokoh aksi juga membantu membangun harga diri, karena setiap anak bisa menjadi pahlawan – hanya dengan berpura-pura. Informasi mengenai aspek tumbuh kembang anak dan rekomendasi mainan sesuai kategori usia anak dapat ditemukan pada seri booklet “The Power of Play” terbaru dari ELC yang didukung oleh para pakar mulai dari psikolog dan dokter. Seri booklet ini bisa segera didapatkan di seluruh toko Early Learning Centre mulai dari tanggal 6 Maret 2019.

Posted in ,
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial