Polusi Udara Memengaruhi Perkembangan Mental Anak

Facebook
Instagram
E264EAEB-1B32-40CA-8892-106D117C004C

Kualitas udara di DKI Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sudah melampaui ambang batas mengkhawatirkan. Polusi kendaraan bermotor dan emisi PLTU batubara menjadi penyebabnya.

Kondisi ini membuat lebih dari 260 ribu orang terserang penyakit pernafasan dan 85 ribu orang dirawat di rumah sakit per tahun (penelitian dari tahun 2012-2015). 

Pemerintah, melalui peraturan gubernur, menyatakan bahwa kendaraan dinas operasional di lingkungan pemerintah Jakarta wajib berbahan bakar gas. Pemerintah juga akan menganggarkan pembelian konverter bahan bakar untuk semua alat berat milik dinas dalam Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah 2018. (sumber : Tempo)

Tapi cukupkah hanya pemerintah yang mengusahakan dan mengurangi polusi mengerikan yang ada di ibukota? Tidak.

Bagaimana dengan anak-anak kita, lalu para ibu hamil yang sangat membutuhkan udara bersih setiap saat? Karena dampak dari polusi ini sangat berbahaya. Bisa menyebabkan penyakit-penyakit yang mengancam jiwa. Jiwa ibu, jiwa janin, jiwa bayi, anak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Uni Eropa telah menetapkan batasan nitrogen dioksida (NO2) sebesar 40 mcg/m3 (mikrogram per meter kubik). Namun, di banyak kota-kota Eropa seperti London, tingkat NO2 ditemukan melebihi batas yang ditentukan. 

Studi ini menemukan bahwa peningkatan sebesar 10 mcg/m3 dari NO2 dikaitkan dengan peningkatan kasus kondisi kejiwaan pada anak hingga 9 persen dan peningkatan hingga 4 persen kasus gangguan kejiwaan. Mari kita lindungi anak-anak kita dengan memberikan mereka makanan yang bergizi, olahraga yang teratur dan lingkungan yang kondusif. 

Posted in ,
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial