Sequis Berikan Edukasi Medis “Pentingnya Jaga Kesehatan Organ Intim Perempuan”

Facebook
Instagram
Foto sequis organ wanita

Rentannya perempuan terserang berbagai penyakit yang berhubungan dengan organ intim menjadi tanda bagi kita untuk memahami kondisi tubuh serta mengetahui risiko penularan penyakit yang bisa terjadi di sekitar kita. Menyadari hal ini, Sequis mengajak para karyawannya untuk lebih memperhatikan kesehatan. Salah satunya adalah dengan menggelar seminar kesehatan gratis bagi lebih dari 100 karyawan perempuan Sequis.

Seminar ini diadakan dengan menggandeng PT Softex Indonesia sebagai produsen pembalut pertama di Indonesia, dalam acara Healthy Talk Show bersama Softex Daun Sirih yang membahas tentang kesehatan organ intim dengan topik “Kebersihan dan Kesehatan Area Kewanitaan” bersama dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan dr. Bram Pradipta, SpOG dan Brand Representative PT Softex Indonesia, Melina Scandinovita.

Menurut dr Bram, vagina atau alat reproduksi wanita harus dijaga kebersihannya dari basah, lembab karena vagina rentan terhadap infeksi. “Akibat dekatnya batas antara uretra dengan anus dapat menyebabkan kuman penyakit dapat masuk dengan mudah ke liang vagina seperti jamur, bakteri, parasit ataupun virus,” ujar dr Bram. Hal ini bisa terjadi karena area kewanitaan tidak bersih akibat penggunaan celana dalam yang tidak tepat, tidak diganti, atau basah.

Hal ini juga dibenarkan oleh Health Claim Senior Manager Sequis, dr. Yosef Fransiscus. Menurutnya, terjadinya keluhan sakit pada organ intim perempuan biasanya dimulai karena tidak membiasakan menjaga kebersihan daerah intim. Misalnya saja membiarkan pakaian dalam tetap digunakan dalam keadaan basah karena keringat atau keputihan atau tidak membersihkan sampai kering setelah buang air kecil.

“Basah dan lembab pada daerah selangkangan, kelamin dan sekitar pantat dalam jangka waktu yang lama dapat mengembangkan bakteri sehingga menyebabkan bau tak sedap atau infeksi,” ujarnya. Untuk itu dr. Yosef menyarankan agar perempuan rajin menjaga daerah vagina agar tetap bersih dan kering.

Adapun keluhan umum di daerah vagina yang sering terjadi misalnya rasa gatal, nyeri saat buang air kecil, bau yang tidak sedap, adanya darah saat bersenggama serta adanya cairan putih atau dikenal dengan keputihan yang keluar dari vagina. Menurut dr. Bram, jika terjadi keputihan sebaiknya jangan diabaikan karena keputihan yang terjadi secara terus menerus akan mengalami perubahan seperti jumlahnya bertambah banyak, konsistensinya berubah, warna berubah lebih keruh, rasa gatal yang semakin sering dan timbul bau yang tidak sedap.

Ia menyarankan agar sebelum terjadi keluhan pada daerah vagina, perempuan sebaiknya membiasakan diri secara regular membiasakan menjaga kebersihan daerah organ intim seperti mengeringkan vagina setelah buang air kecil dengan tissue.

Jika menggunakan cairan pembersih vagina maka gunakan yang mengandung bahan alami dan dipergunakan bersama air hangat dan dibasuh pada daerah permukaan luar vagina terutama sebelum tidur. Bila menggunakan pantyliner atau pembalut maka perlu menggantinya setelah dua-tiga jam sekali terutama jika sudah basah harus segera diganti. Pilihlah pantyliner dan pembalut yang cocok dengan kulit agar tidak terjadi iritasi, memiliki daya serap yang baik karena jika ada cairan sisa yang ada infeksi menempel pada pantyliner atau pembalut dapat mengenai organ intim kembali. Demikian juga jika akan melakukan senggama, sebaiknya membasuh vagina sebelum dan sesudah bersenggama.

Untuk membersihkan area vagina, dr. Bram juga menyarankan tidak menggunakan douche. “Proses melakukan vaginal douching sering disarankan dengan anggapan dapat membersihkan organ kewanitaan. Douche sendiri berasal dari bahasa Prancis yang berarti to wash, namun praktek ini ternyata tidak memberikan efek yang menguntungkan,” ujarnya. Berdasarkan informasi dari WebMD, penggunaan douche pada vagina dapat meningkatkan risiko terjadinya bacterial vaginosis dan pelvic inflammatory disease*.  Hal ini juga disarankan oleh American College Obstetric dan Gynecology (ACOG) yaitu agar tidak melakukan praktik douching karena dikhawatirkan memperparah terjadinya infeksi.**

Penggunaan pakaian juga ternyata dapat mempengaruhi kesehatan organ intim perempuan, misalnya jika sering menggunakan celana ketat dan bahan celana yang tidak menyerap keringat akan membuat area selangkang dan area intim menjadi lengket, lembab dan menjadi area yang subur bagi  jamur. Dr Bram menyarankan, perempuan yang menyukai kegiatan luar ruang seperti olah raga sebaiknya segera berganti pakaian dalam pasca olahraga.

Keluhan Medis Pada Daerah Organ Intim

Terjadinya keluhan pada organ intim akibat adanya jamur, bakteri maupun virus bisa juga terjadi karena faktor luar seperti tindakan seks bebas, penggunaan antibiotik yang tidak rasional, perubahan hormonal, merokok, mengonsumsi rokok, dalam keadaan stres, obesitas maupun karena terkena penyakit tertentu seperti HIV dan diabetes. “Keluhan yang rentan menyerang organ intim seperti kanker pada sistem reproduksi, keputihan, siklus menstruasi yang tidak teratur, radang panggul, radang pada vagina, infertilitas dan myoma (tumor jinak),” ujar dr Bram. 

Kanker pada sistem  reproduksi  yaitu kanker rahim maupun kanker serviks merupakan penyakit yang banyak menyebabkan kematian pada kaum perempuan. “Penyakit ini disebabkan oleh Human Papilolloma Virus (HPV) yang dapat menyebar dan berpindah dengan mudah, walau hanya lewat sentuhan kulit, bertukar alat pribadi seperti handuk atau melakukan hubungan seks yang tidak aman dan bertukar pasangan. Perempuan perlu memiliki pengetahuan mengenai sistem reproduksi sehingga  jika terjadi keluhan dapat ditangani sejak dini,” tambah dr. Yosef. Yuk, mari selalu membersihkan organ intim kewanitaan dengan benar.

 

 

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial