Taman Bacaan Pelangi Membuka Perpustakaan ke-100

Facebook
Instagram
Taman Bacaan Pelangi

Kemampuan baca adalah modal dasar anak dalam mewujudkan potensi diri. Untuk mengembangkan kemampuan tersebut, anak perlu memiliki akses ke buku berkualitas. Sayangnya, dari 170.647 sekolah dasar di Indonesia, hanya 45,9% di antaranya yang memiliki perpustakaan. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap skor PISA (Program for International Student Assessment) siswa-siswi Indonesia dalam hal membaca yang berada di peringkat 64 dari 70 negara.

Menyadari hal tersebut, Taman Bacaan Pelangi (TB Pelangi) giat memfokuskan diri pada pendirian perpustakaan ramah anak serta memberikan pelatihan guru di daerah terpencil di Indonesia Timur sejak tahun 2009. Minggu lalu, TB Pelangi meresmikan perpustakaannya yang ke-100. Peresmian dilakukan di SDK Nangapanda 1, Ende, Nusa Tenggara Timur. Dengan diresmikannya perpustakaan ramah anak Taman Bacaan Pelangi yang ke-100 sebanyak 26.000 anak di 17 pulau di Indonesia Timur kini sudah mendapatkan akses buku bacaan yang berkualitas, dan lebih dari 1.000 guru sudah mendapatkan pelatihan tentang sistem pengelolaan perpustakaan ramah anak dan program literasi anak.

Nila Tanzil, Founder Taman Bacaan Pelangi, menyatakan, “Perjalanan panjang mendirikan 100 perpustakaan ramah anak di berbagai daerah pelosok di Indonesia Timur menunjukkan rasa cinta yang besar dari berbagai pihak kepada kemajuan anak-anak di daerah pelosok. Terima kasih kepada semua pihak yang terus mendukung kami selama ini, baik pihak sekolah, orangtua siswa, pemerintah daerah, para relawan, penyandang dana, hingga masyarakat luas. Tanpa mereka, semua capaian ini tidak mungkin terwujud.”

Peresmian perpustakaan ke-100 tersebut merupakan bagian dari rangkaian peresmian perpustakaan siklus ketiga proyek TB Pelangi dengan dana dari sebuah LSM internasional dalam bidang pendidikan Room to Read. Pada siklus ini, TB Pelangi mendirikan 20 perpustakaan di Kabupaten Ende. Sebelumnya, pada siklus kedua, TB Pelangi telah membuka 18 perpustakaan di Kabupaten Ende, dan, pada siklus pertama, 12 perpustakaan di Kabupaten Manggarai Barat.

“Kami bangga konsep perpustakaan ramah anak telah diterapkan di Ende. Kami percaya bahwa perubahan dunia dimulai dari anak-anak yang berpendidikan. Melalui kerjasama dengan Taman Bacaan Pelangi, kami berkomitmen untuk membantu meningkatkan kebiasaan dan kemampuan membaca anak-anak di Indonesia,” kata Joel Bacha, Accelerator Project Director, Room to Read, partner utama dan donor untuk project yang dilakukan oleh Taman Bacaan Pelangi di Kabupaten Ende, Flores.

Momentum peresmian perpustakaan ke-100 ini dimanfaatkan oleh TB Pelangi untuk menilik capaian selama ini dan langkah ke depan untuk mewujudkan visi TB Pelangi menyemangati anak-anak dalam menyadari mimpi, meningkatkan kemampuan yang berguna bagi diri dan sekitarnya, memutus rantai kemiskinan, dan meletakkan dasar perdamaian.

“Walau angka 100 terasa besar, namun pekerjaan yang lebih besar lagi masih terbentang di hadapan kita. Ada 1.751.000 anak yang berada di daerah tertinggal di Indonesia Timur dan 92.320 sekolah dasar yang belum memiliki perpustakaan. Bagi kami, semua anak di Indonesia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses buku bacaan yang berkualitas. TB Pelangi bertekad untuk terus bekerja sama dengan berbagai pihak dalam meningkatkan kemampuan baca anak dan mengembangkan kebiasaan membaca anak Indonesia melalui pendirian perpustakaan ramah anak ,” tambah Nila.

Dr. James Modouw, M.Mt, Staf Ahli Menteri Pendidikan & Kebudayaan bidang Hubungan Pusat dan Daerah, mengatakan, “Atas nama Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, kami mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan oleh Taman Bacaan Pelangi untuk meningkatkan kemamp untuk berkiprah dalam meningkatkan kemampuan baca anak Indonesia melalui penyediaan akses ke buku berkualitas. uan literasi anak-anak di daerah-daerah tertinggal di kawasan Indonesia Timur. Keberadaan perpustakaan ramah anak mampu menumbuhkan minat baca anak-anak di daerah pelosok, selain itu pelatihan guru yang dilakukan oleh TB Pelangi juga sangat berguna untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan mereka tentang sistem pengelolaan perpustakaan yang baik dan kegiatan literasi yang mampu menumbuhkan minat baca anak.”

Setelah meresmikan perpustakaan ramah anaknya yang ke-100, TB Pelangi meluncurkan sebuah inisiatif baru, yaitu penyelenggaraan lokakarya dan kegiatan pendampingan bagi komunitas atau lembaga yang ingin mendirikan perpustakaan serupa di berbagai daerah.

“Gerakan literasi sedang marak di Indonesia. Ada banyak komunitas masyarakat bergerak di bidang literasi. Kami ingin berbagi pengalaman dan ilmu tentang bagaimana membuat perpustakaan ramah anak yang berkesinambungan. Langkah ini kami yakini akan membuka peluang bagi lebih banyak lagi pihak-pihak yang ingin berkiprah dalam meningkatkan kebiasaan membaca anak di Indonesia. Mari kita bersinergi demi peningkatan literasi anak bangsa,” ujar Nila.  

Inisiatif tersebut terbuka bagi berbagai calon mitra dari berbagai latar, baik LSM, swasta, maupun pemerintah, dan dari berbagai daerah di Indonesia atau bahkan lebih luas lagi.

TB Pelangi akan berbagi prinsip, proses, dan ragam dukungan yang dibutuhkan untuk mendirikan perpustakaan ramah anak. Hal ini mencakup perbaikan fisik ruang perpustakaan sekolah, penyediaan perabot perpustakaan, penyediaan buku cerita anak-anak, pelatihan bagi para pustakawan dan guru, serta pendampingan selama proses persiapan dan awal pelaksanaan perpustakaan.

Didirikan pada tahun 2009, Taman Bacaan Pelangi adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada pendirian perpustakaan ramah anak di daerah terpencil di Indonesia Timur. Dengan diresmikannya perpustakaan ke-100 minggu lalu, secara keseluruhan, Taman Bacaan Pelangi telah membantu memberikan akses ke lebih dari 200.000 buku bacaan yang berkualitas kepada lebih dari 26.000 anak-anak di daerah terpencil yang tersebar di 17 pulau di Indonesia Timur, serta telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 1.000 guru di Indonesia Timur.

Posted in ,
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial